Minggu, 21 Juni 2020

" Tidak Ada Niatan, Keberuntungan Menghampiri "


" Tidak Ada Niatan, Keberuntungan Menghampiri "



 Assalamualaikum Sahabat FEBI
Semoga selalu dalam lindungan Nya amin....
Sebuah institusi pendidikan terutama di perguruan tinggi, ada yang namanya mahasiswa, mahasiswi, dosen, fakultas, prodi dan lainnya. Dan pastinya sebuah institusi itu ada sosok alumni, begitu pun di perguruan tinggi. Berbicara mengenai alumni, antara satu dengan yang lainnya pasti lah berbeda jalan takdirnya, kesuksesan yang diraih, ada yang beruntung dan ada yang kurang beruntung. Sosok alumni perguruan tinggi yang sangat diperhatikan oleh orang - orang diluar sana, dari kelangan masyarakat bawah, menengah, hingga masyarakat atas. Tidak hanya itu saja yang memandang sosok alumni perguruan tinggi, pihak kampus pun pasti sangat memperhatikan para alumninya. Mengapa demikian? Sosok alumni yang sukses, menjadi orang yang sukses diluar sana, merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi kampus karena telah sukses mendidik anak - anaknya selama menjadi mahasiswa. Akan tetapi ketika melihat alumni yang nasibnya masih tidak seberuntung mereka yang sudah sukses, sedikit banyaknya pasti ada rasa bersalah maupun menyesal telah gagal mendidiknya.
           Kesuksesan seseorang pasti berbeda - beda, jalan yang ditempuh juga berbeda, serta ikhtiar yang dilakukan pasi sangatlah berbeda jauh. Kesuksesan yang diraih oleh alumni muda menjadi hal yang luar biasa, padahal di luar sana banyak orang yang menginginkan seperti dirinya saat ini. Tapi, Allah berkehendak lain. Sosok alumni yang tak pernah kenal lelah, yang selalu berusaha, hingga saat ini. Siapakah Dia? Pastinya akan dia adalah alumni kita yakni di Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Jember tepatnya di  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Mari kita simak bersama bagaimana perjalanan hidupnya selama ini.
           Sururi, sudah tidak asing lagi dengar. Ya kita akan membicarakan tentang sosok itu. Mohommad Zainus Sururi. 27 Desember 1995 tepatnya di Dusun Mulyorejo RT 02 / RT 01, Desa Wringin Rejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Saat ini dia masih belum berkeluarga, masih fokus kepada pekerjaannya saat ini. Dia salah satu pegawai bank mandiri di daerah Situbondo sebagai Customer Servis tepatnya di Jl. Ahmad Yani No. 106 Dawuhan - Situbondo.
             Bukan hal yang mudah menjadi sosok yang seperti itu, banyak hal yang harus dilakukan oleh dia, banyak hal yang harus diperjuangkan. Pria muda 24 tahun itu menceritakan pengalamannya hingga menjadi seperti saat ini.  Dia berasal dari kelompok yang bisa dikatakan tingkat perekonomiannya menengah kebawah, keluarga yang sederhana, membuat dirinya selalu bersyukur hingga saat ini. Sururi  sebenarnya tidak ingin melanjutkan pendidikan terakhir di Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Jember, tidak ada niatan awal untuk masuk ke sana, ketika dia mengikuti tes di perguruan tinggi lainnya tidak lolos akhirnya mengikuti saran orang tua untuk masuk di Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Jember. Keberuntungan yang sangatlah luar biasa dia memasuki kampus ini.  Keinginan yang sangat besar bagi dirinya untuk memiliki usaha sendiri, bisa merekrut teman - teman yang lain membawa dirinya untuk mengambil jurusan ekonomi Islam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Padahal, jurusan itu tidak sesuai dengan jurusan ketika masih bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Genteng, ketika disana mengambil jurusan IPA. Dengan keyakinan yang kuat dia memutar balikkan kenyataan dengan mengambil jurusan yang berbeda jauh ketika masih SMA dulu.
              Ketika masih mahasiswa Sururi pastinya tidak luput dari hal yang tidak bisa dia lupakan. Awal ketika memasuki kuliah yang menjadi kendalanya adalah bahasa. Bahasa Madura yang sering dia dengar ketika di kampus membuat dirinya bingung hanya bisa memperhatikan temannya. Selain itu, dia mengakui bahwa dirinya bukan anak keagamaan dan banyak belajar agama ketika menjadi mahasiswa di IAIN Jember. Namun, semangat tidak patah begitu saja, dia menjalankan kewajibannya untuk kuliah. Disamping kuliah yang dia jalani, dia mencari kesibukan lain dengan ikut beberapa organisasi yang ada di kampus. Dunia organisasi bagi dirinya sudah tidak asing lahi, karena sejak masih SMA dirinya sudah disibukkan menjadi pengurus OSIS. Ketika dia mengikuti organisasi di kampus yang dia ikut adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ), Pramuka IAIN Jember dan juga ikut organisasi daerah yang sama - sama dari Banyuwangi tabg sering disebut dengan Ikatan Mahasiswa Banyuwangi atau disingkat dengan IMABA, ketika dia dalam lingkup IMABA dia mempunyai tanggungan menjadi salah satu pengurus disana. Sururi, ditengah kesibukannya ikut organisasi dia tidak pernah mengesampingkan kuliahnya. Bagi dirinya kuliah tetap nomer satu. Tahun 2014, awal dia menjadi mahasiswa di kampus IAIN Jember, kehidupan yang dijalaninya begitu sederhana, selalu bersyukur dengan apa yang ada. Hingga tak terasa 4 tahun berlalu begitu saja. Tepat pada tanggal 6 April 2018 dia menyelesaikan tugas akhirnya menjadi mahasiswa yakni melakukan sidang skripsi. Ada alasan tersendiri baginya menyelesaikan kuliahnya waktu itu, " Selain karena sudah waktunya lulus saya juga tidak ingin membebani kedua orang tua saya, karena adik saya uang yang pertama mau masuk kuliah ditahun depan dan adik yang kedua masih kelas 2 SD. Biaya yang tidak sedikit untuk menguliahkan adik saya kalau masih ditambah dengan saya, kasian orang tua terbebani." tutur anak pertama dari tiga bersaudara dengan bijaknya.  Tepat pada tanggal 28 April 2018 di melangsungkan proses yusdisi.
                 Ditengah - tengah menunggu waktu wisuda, Sururi mengikuti  seleksi untuk masuk di BRI yang diadakan oleh pihak kampus. Banyak tahapan yang harus di lewat ketika mengikuti tes tersebut.  Tiga kali tes di Jember, selanjutnya di Surabaya hingga tiga kali les. Dia menceritakan ketika mengikuti tes ke Surabaya setiap tes berangkat jam 19.00 WIB dengan menggunakan bis ketika sampai di sana  sebelum subuh. Melihat teman - teman yang lain ketika mau mengikuti interview hanya dirinya yang tidak bisa beristirahat ditempat yang nyaman. " Saya ikut interview , sampek Surabaya langsung ke musholla, mandinya di kamar mandi musholla, siap - siap interview dari musholla, berangkatnya juga dari musholla. Kalau yang lain berangkat ada yang diantar, dari hotel dan lainnya. Selama tiga kali interview saya melakukan itu. Tapi Alhamdulillah, yang dari IAIN Jember yang mendapatkan keberuntungan itu. " ucap putra sulung dari pasangan Bapak Farid Yahya dan Ibu Nur Umamah itu.
                 Suatu perjuangan yang luar biasa, dia tempuh dengan selalu bersyukur, hidup serba cukup dan terkadang kekurangan di kota orang nan jauh dari orang tua selalu dia syukuri. Dia berpesan kepada adik - adiknya di Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Jember khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam"  Syukurilah apa yang ada, disiplin, memiliki rasa tanggung jawab, ramah kepada semua orang sekalipun itu musuhmu,  jangan mengikuti gaya kehidupan yang ada biarlah gaya hidup yang mengikuti kita., dan jangan lupa sholat di sepertiga malamnya. Ingat setinggi - tingginya kalian mempunyai jabatan, pasti masih disuruh orang. Kuncinya harus bersyukur" tuturnya yang begitu bijak.
               Setiap proses yang dijalani tidak semudah kita membolak balikkan tangan. Sama halnya ketika kita mau memakan nasi ada proses yang panjang disana, ada pengorbanan yang sangat besar, bukan hal yang mudah untuk mencapai itu semua. Semangat yang luar biasa sosok Sururi bisa dijadikan sebuah pelajaran. Hiduplah dengan dipenuhi rasa syukur jangan bersyukur ditengah hidup. Kegengsian yang ada dalam diri kita, hindarkan sejenak ketika kita melakukan hal kebaikan. Selalu berikhtiar dengan apa yang dijalani. Mengingat pesan Sururi yang terakhir,  agar kita bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang yang kurang beruntung agar kita tidak selalu di perintah oleh sesama manusia.
Tetap semangat yakinlah tidak semua orang memiliki pekerjaan akan tetapi,  setiap orang memiliki rezeki dengan jalan masing - masing dan jangan putus asa.

           Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh